Jakarta, 21 September 2026 – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai Influenza A karena virus tersebut memiliki kemampuan bermutasi dengan cepat dan dalam kondisi tertentu dapat memicu pandemi. Perhatian terutama diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta karena kelompok tersebut memiliki risiko mengalami gejala lebih berat. Meski muncul laporan peningkatan kasus di sejumlah daerah, kondisi di Indonesia saat ini belum menunjukkan lonjakan signifikan secara nasional. Influenza A sendiri bukan virus baru dan sejumlah subtipenya telah lama bersirkulasi di masyarakat. Namun, karakter virus yang mudah mengalami perubahan membuat pemantauan tetap diperlukan. Masyarakat pun diminta waspada tanpa perlu panik menghadapi perkembangan kasus influenza.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K), menjelaskan Influenza A merupakan tipe influenza yang paling banyak ditemukan dalam sirkulasi. Pada manusia, beberapa subtipe yang banyak beredar antara lain H1N1 dan H3N2. Influenza A memiliki struktur permukaan dengan hemaglutinin dan neuraminidase yang berperan dalam proses virus menginfeksi sel. Perubahan pada komponen virus tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam munculnya variasi influenza dari waktu ke waktu. Kemampuan berubah inilah yang membuat Influenza A mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan sejumlah tipe lainnya. Virus tersebut juga dapat ditemukan pada manusia maupun berbagai jenis hewan.
Kemampuan Influenza A menginfeksi lebih dari satu spesies menjadi salah satu alasan virus tersebut terus diawasi. Anggraini menjelaskan virus influenza dapat mengalami perubahan genetik yang memungkinkan munculnya karakter berbeda dibandingkan virus yang sebelumnya beredar. Dalam sejarah, Influenza A memang berkaitan dengan sejumlah pandemi, termasuk pandemi influenza 1918 dan pandemi H1N1 pada 2009. Namun, kemampuan bermutasi tidak berarti Influenza A yang saat ini beredar otomatis akan berkembang menjadi pandemi baru. Pandemi membutuhkan sejumlah kondisi, termasuk munculnya virus dengan karakter antigenik berbeda yang mampu menular secara efisien antarmanusia. Karena itu, surveilans menjadi penting untuk mengetahui perubahan karakter virus sedini mungkin. Pemantauan juga membantu tenaga kesehatan melihat apakah terjadi perubahan pola penularan maupun tingkat keparahan penyakit.
IDAI menegaskan Influenza A yang saat ini banyak dibicarakan tidak serta-merta berarti flu burung atau virus influenza baru. Influenza A merupakan kelompok besar virus dengan berbagai subtipe yang memiliki karakteristik berbeda. H1N1 dan H3N2 termasuk yang telah lama beredar pada manusia sebagai influenza musiman. Masyarakat karena itu tidak perlu langsung mengaitkan setiap diagnosis Influenza A dengan ancaman pandemi. Informasi mengenai jenis dan subtipe virus membutuhkan pemeriksaan serta pemantauan epidemiologis yang tepat. Kewaspadaan tetap diperlukan terutama apabila ditemukan perubahan pola kasus yang tidak biasa. Pemahaman tersebut penting agar peningkatan perhatian terhadap influenza tidak berubah menjadi kepanikan.
Gejala influenza juga perlu dibedakan dengan selesma atau common cold yang sering dianggap sama oleh masyarakat. Influenza biasanya muncul lebih cepat dengan keluhan seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, hidung berair atau tersumbat, sakit kepala, kelelahan, dan nyeri pada tubuh. Pada sebagian penderita, kondisi tersebut dapat berlangsung lebih berat dan membutuhkan waktu pemulihan lebih panjang dibandingkan selesma biasa. Sementara common cold umumnya menimbulkan keluhan lebih ringan yang banyak dirasakan di area hidung dan tenggorokan. Anak-anak perlu mendapatkan perhatian karena daya tahan mereka terhadap influenza belum selalu terbentuk secara optimal. Risiko komplikasi juga meningkat pada anak dengan penyakit penyerta atau kondisi kesehatan tertentu.
Kelompok rentan menjadi perhatian utama karena influenza dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. Anak kecil, khususnya balita, termasuk kelompok yang lebih berisiko membutuhkan perawatan ketika mengalami influenza. Lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis juga memiliki risiko komplikasi lebih tinggi dibandingkan orang sehat pada umumnya. Pada kondisi tertentu, influenza dapat menyebabkan pneumonia, memperburuk penyakit yang sudah dimiliki pasien, atau menimbulkan komplikasi lain. Orang tua karena itu perlu memperhatikan perubahan kondisi anak selama sakit dan tidak hanya berpatokan pada keberadaan demam. Kesulitan bernapas, kondisi yang semakin lemah, sulit makan atau minum, maupun gejala yang terus memburuk menjadi alasan untuk segera mencari pertolongan medis.
Perhatian terhadap Influenza A meningkat setelah ditemukan kenaikan kasus di beberapa wilayah dan rumah sakit. IDAI menyebut terdapat peningkatan pasien influenza di sejumlah ruang perawatan anak di kota besar, tetapi data hingga 10 September 2026 belum menunjukkan lonjakan tinggi secara nasional dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kementerian Kesehatan juga telah memantau sejumlah daerah yang menunjukkan peningkatan kasus, termasuk laporan dari Jawa Timur. Perkembangan di negara-negara sekitar Indonesia turut menjadi perhatian karena tingginya mobilitas masyarakat antarnegara. Kondisi tersebut membuat pemetaan wilayah dan pola penyebaran virus dinilai penting untuk dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pemantauan yang baik, perubahan tren kasus dapat diketahui lebih cepat sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
Pencegahan tetap menjadi langkah utama untuk menekan risiko penularan dan penyakit berat. Vaksinasi influenza tahunan dapat dipertimbangkan terutama bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan, menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, menggunakan masker ketika sedang sakit, serta mengurangi kontak dekat dengan orang lain dapat membantu mengurangi penyebaran virus. Anak yang sedang mengalami demam dan gejala influenza sebaiknya memperoleh waktu istirahat yang cukup sebelum kembali melakukan aktivitas bersama banyak orang. Lingkungan padat seperti sekolah dan tempat penitipan anak membutuhkan perhatian karena kontak antaranak berlangsung sangat dekat. Orang tua juga perlu memastikan kebutuhan cairan dan nutrisi anak tetap terpenuhi selama masa pemulihan.
Pemerintah melalui sistem surveilans terus melakukan pemantauan terhadap influenza yang beredar di Indonesia. Pemeriksaan laboratorium dan analisis genom virus menjadi bagian penting untuk mendeteksi apabila terdapat perubahan signifikan pada karakter Influenza A. Langkah tersebut diperlukan karena kemampuan mutasi virus membuat komposisi influenza yang beredar dapat berubah dari waktu ke waktu. Data hasil pemantauan kemudian dapat digunakan untuk menilai tren kasus, karakter virus, hingga potensi peningkatan risiko kesehatan masyarakat. Kewaspadaan terhadap Influenza A karena itu bukan berarti pandemi baru sedang terjadi, melainkan bagian dari upaya mendeteksi perubahan virus sedini mungkin. Dengan pemantauan, vaksinasi, perilaku hidup bersih, dan penanganan medis yang tepat, risiko penyakit berat maupun penyebaran influenza dapat ditekan.