Jakarta, 19 Oktober 2026 – PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) menjadi perhatian pelaku pasar setelah mengalokasikan dana maksimal Rp100 miliar untuk program pembelian kembali saham atau buyback. Aksi korporasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga stabilitas harga saham dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Perseroan menggunakan dana internal untuk mendukung pelaksanaan program tanpa mengandalkan pembiayaan eksternal. Langkah ini mencerminkan perhatian manajemen terhadap dinamika perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, realisasi pembelian kembali tetap bergantung pada kondisi pasar dan keputusan perusahaan dalam menjalankan program tersebut.
Program buyback PBSA dilaksanakan pada periode Februari hingga Maret 2026 dengan batas alokasi dana sebesar Rp100 miliar. Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2026, perseroan telah membeli kembali sebanyak 15.113.700 lembar saham melalui perdagangan di BEI. Nilai transaksi pembelian kembali tersebut mencapai sekitar Rp19,28 miliar dengan harga rata-rata Rp1.276 per saham. Saham hasil pembelian kembali kemudian dicatat sebagai saham treasuri dalam laporan posisi keuangan konsolidasian perusahaan. Dengan demikian, dana Rp100 miliar merupakan batas maksimum yang disiapkan, bukan jumlah yang seluruhnya telah digunakan. Perbedaan antara alokasi dan realisasi tersebut penting diperhatikan dalam menilai dampak aksi korporasi terhadap keuangan perseroan.
Pembelian kembali saham merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan perusahaan terbuka untuk mengelola struktur permodalan dan merespons kondisi pasar. Melalui mekanisme tersebut, perusahaan membeli sebagian sahamnya yang telah beredar di pasar sekunder. Saham yang diperoleh dapat disimpan sebagai saham treasuri dan dikelola sesuai ketentuan pasar modal yang berlaku. Berkurangnya jumlah saham yang beredar di publik berpotensi memengaruhi sejumlah indikator keuangan, termasuk laba per saham. Namun, buyback tidak secara otomatis menjamin kenaikan harga saham karena pergerakan pasar tetap dipengaruhi permintaan, penawaran, dan kondisi fundamental perusahaan. Investor juga perlu memperhatikan penggunaan kas perusahaan untuk memastikan aksi korporasi tidak mengganggu kebutuhan operasional.
Dari sisi kinerja keuangan, Paramita Bangun Sarana mencatat pertumbuhan usaha sepanjang tahun buku 2025. Pendapatan perseroan mencapai sekitar Rp1,59 triliun, meningkat 37,85 persen dibandingkan Rp1,15 triliun pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut turut mendorong laba tahun berjalan menjadi sekitar Rp320,08 miliar, meningkat dibandingkan Rp215,04 miliar pada 2024. Perusahaan juga mencatat tingkat pengembalian aset atau Return on Assets sebesar 22,51 persen dan Return on Equity sebesar 34,45 persen. Pencapaian tersebut menunjukkan peningkatan kinerja keuangan pada periode yang dilaporkan. Manajemen menilai disiplin operasional dan pengelolaan proyek menjadi faktor penting dalam mempertahankan pertumbuhan bisnis.
Selain menjalankan program buyback, PBSA juga melaksanakan kebijakan pembagian dividen kepada pemegang saham. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2026, perusahaan menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp60 per saham dengan total alokasi sekitar Rp180 miliar. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi memberikan imbal hasil kepada investor melalui pembagian keuntungan perusahaan. Pembayaran dividen dan pelaksanaan buyback merupakan dua bentuk aksi korporasi yang memiliki mekanisme berbeda. Dividen memberikan pembayaran langsung kepada pemegang saham yang memenuhi ketentuan, sedangkan buyback dilakukan melalui pembelian saham di pasar. Kedua kebijakan tersebut tetap perlu mempertimbangkan kondisi kas, kebutuhan investasi, dan keberlanjutan operasional perusahaan.
PBSA juga menjalankan aksi pemecahan saham atau stock split dengan rasio 1:2 pada Oktober 2026. Melalui kebijakan tersebut, nilai nominal saham berubah dari Rp50 menjadi Rp25 per lembar, sedangkan jumlah saham beredar meningkat secara proporsional. Perdagangan saham dengan nilai nominal baru mulai berlangsung pada 14 Oktober 2026 di pasar reguler dan pasar negosiasi. Pemecahan saham bertujuan meningkatkan keterjangkauan harga serta memperluas peluang partisipasi investor ritel. Berbeda dengan buyback, stock split tidak mengubah total nilai modal disetor maupun persentase kepemilikan investor secara langsung. Kombinasi berbagai aksi korporasi tersebut memperlihatkan upaya perusahaan dalam mengelola struktur saham dan meningkatkan aktivitas perdagangan.
Dalam menjalankan kegiatan usaha, Paramita Bangun Sarana bergerak di bidang jasa konstruksi, terutama pembangunan fasilitas industri. Perseroan memiliki pengalaman mengerjakan berbagai proyek yang berkaitan dengan sektor pengolahan sumber daya alam dan infrastruktur pendukung industri. Pada 2025, perusahaan memperkuat portofolio melalui proyek industri pulp dan kertas di Sumatera Selatan serta Karawang, Jawa Barat. Untuk tahun 2026, manajemen menargetkan pendapatan sekitar Rp1,7 triliun dengan laba usaha sebelum pajak sekitar Rp260 miliar. Pencapaian target tersebut bergantung pada penyelesaian proyek, pengelolaan biaya, dan kemampuan memperoleh kontrak baru. Perseroan juga menekankan pentingnya pengelolaan modal kerja secara hati-hati untuk menjaga kesehatan keuangan.
Alokasi dana Rp100 miliar untuk pembelian kembali saham menjadi salah satu bagian dari kebijakan keuangan Paramita Bangun Sarana sepanjang 2026. Meskipun program tersebut telah dilaksanakan pada Februari hingga Maret, realisasi pembelian saham tercatat lebih rendah daripada batas dana yang disiapkan. Investor perlu membedakan antara pengumuman alokasi, transaksi yang telah dilakukan, dan kemungkinan aksi korporasi baru pada periode berikutnya. Di tengah perubahan kondisi pasar modal, transparansi mengenai penggunaan dana dan kepemilikan saham menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik. PBSA diharapkan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pengelolaan proyek yang efisien dan strategi pertumbuhan yang terukur. Dengan kinerja operasional yang berkelanjutan, perusahaan memiliki peluang untuk meningkatkan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.