Jakarta, 9 September 2026 – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) meraih Anugerah Ekonomi Hijau 2026 berkat komitmennya menjalankan program keberlanjutan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Salah satu program yang mendapatkan perhatian adalah kegiatan konservasi melalui penanaman mangrove di Kawasan Ekosistem Esensial Desa Kao. Program tersebut menjadi bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance atau ESG yang dikembangkan perusahaan dengan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Penghargaan diberikan dalam ajang Anugerah Ekonomi Hijau 2026 yang berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta, pada Kamis, 3 September 2026. NHM mendapatkan apresiasi dalam kelompok kontribusi ekonomi kemasyarakatan atas kepeduliannya terhadap lingkungan melalui kegiatan penanaman mangrove. Penghargaan tersebut sekaligus menyoroti pendekatan perusahaan yang menghubungkan pemulihan lingkungan dengan pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah lingkar tambang.
Program konservasi mangrove NHM salah satunya diwujudkan melalui kegiatan penanaman di Kawasan Ekosistem Esensial Desa Kao pada 28 Juli 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dalam rangkaian peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026. Sejumlah unsur pemerintah, perusahaan, aparat, serta masyarakat dilibatkan dalam kegiatan tersebut sehingga konservasi tidak hanya menjadi program internal perusahaan. Kawasan mangrove dipandang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, menyediakan habitat berbagai biota, serta membantu mengurangi dampak abrasi. Keberadaan vegetasi mangrove juga memiliki kemampuan menyimpan karbon sehingga berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. Melalui kegiatan tersebut, NHM berupaya menjadikan konservasi sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan yang berjalan beriringan dengan aktivitas perusahaan.
Penanaman mangrove di Desa Kao juga menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk menjaga kawasan pesisir Indonesia. Pemerintah pada peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 mendorong penanaman lebih dari satu juta bibit mangrove di 162 titik yang tersebar pada 37 provinsi. Kegiatan nasional tersebut mencakup area lebih dari 364 hektare dan melibatkan puluhan ribu peserta dari berbagai kelompok masyarakat. Pemerintah memandang mangrove sebagai benteng alami pesisir yang memiliki fungsi ekologis sekaligus ekonomi sehingga rehabilitasi tidak cukup dilakukan hanya melalui penanaman. Bibit yang telah ditanam perlu dipelihara dan dipantau agar memiliki tingkat kelangsungan hidup yang baik serta berkembang menjadi ekosistem yang sehat. Pendekatan semacam itu juga menjadi tantangan bagi perusahaan yang menjalankan program konservasi agar dampaknya dapat diukur dalam jangka panjang.
Bagi NHM, perhatian terhadap lingkungan menjadi salah satu bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat yang dijalankan di wilayah sekitar tambang. Program tersebut menjangkau 83 desa yang berada di lima kecamatan, yakni Kao, Kao Teluk, Kao Barat, Kao Utara, dan Malifut. Ruang lingkupnya tidak terbatas pada lingkungan, tetapi juga meliputi pendidikan, kesehatan, peningkatan pendapatan riil masyarakat, kemandirian ekonomi, sosial budaya, hingga penguatan kelembagaan. Pendekatan tersebut ditujukan agar keberadaan perusahaan memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Kegiatan konservasi mangrove kemudian ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat pesisir. Dengan demikian, perlindungan ekosistem diharapkan dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan kapasitas sosial dan ekonomi warga.
Kontribusi terhadap masyarakat juga terlihat dari komposisi tenaga kerja perusahaan yang sekitar 70 persennya berasal dari masyarakat lokal. Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu jalur yang digunakan untuk meningkatkan keterlibatan warga dalam kegiatan ekonomi di wilayah tersebut. Namun, NHM juga menjalankan berbagai program untuk memperluas kesempatan masyarakat di luar pekerjaan langsung di sektor pertambangan. Di bidang ekonomi, perusahaan mendorong peningkatan produktivitas pertanian dan hortikultura melalui penguatan luas tanam, pengembangan komoditas unggulan, serta kerja sama dengan pemerintah desa. Perusahaan juga bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja Provinsi Maluku Utara melalui program pelatihan vokasi bagi generasi muda di Kecamatan Kao Teluk dan Malifut. Pelatihan tersebut diarahkan untuk memberikan keterampilan yang dapat digunakan peserta mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Pada sektor pendidikan, NHM tercatat memberikan beasiswa kepada 1.527 mahasiswa program sarjana dan pascasarjana yang berasal dari wilayah lingkar tambang. Para penerima menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sehingga program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari Halmahera Utara. Perusahaan juga memberikan dukungan dana operasional kepada tenaga pengajar honorer pada jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA. Fasilitas antarjemput sekolah turut disediakan bagi siswa di sejumlah kecamatan untuk membantu akses pendidikan. Program pendidikan tersebut menjadi bagian penting dari strategi pemberdayaan karena peningkatan kualitas sumber daya manusia dinilai dapat memberikan dampak yang bertahan lebih panjang daripada bantuan yang bersifat sementara. Dalam jangka panjang, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan lebih besar untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah secara mandiri.
Program kesehatan juga menjadi salah satu pilar kegiatan sosial NHM di wilayah operasionalnya. Perusahaan memberikan bantuan biaya pengobatan kepada masyarakat kurang mampu, terutama warga lingkar tambang serta masyarakat Halmahera Utara dan Maluku Utara yang membutuhkan layanan kesehatan rujukan. Bantuan tersebut dapat digunakan ketika pasien harus mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan di Tobelo, Ternate, Manado, maupun Jakarta. Selain membantu pasien secara langsung, NHM mendukung peningkatan kapasitas lebih dari 700 kader kesehatan desa dari lima kecamatan. Para kader mendapatkan pendampingan, pemantauan, dan evaluasi agar dapat membantu pelayanan kesehatan masyarakat, pelaksanaan posyandu, pendataan kasus, hingga koordinasi dengan tenaga medis. Penguatan kader di tingkat desa dinilai penting karena mereka menjadi salah satu unsur yang paling dekat dengan masyarakat ketika muncul persoalan kesehatan.
Selain pendidikan dan kesehatan, perhatian terhadap aspek sosial budaya juga menjadi bagian dari pendekatan keberlanjutan perusahaan. NHM mendukung penyediaan sarana dan prasarana ibadah serta berbagai kegiatan masyarakat di bidang keagamaan. Sejak 2019, perusahaan juga menjalankan dukungan terhadap pelestarian adat dan budaya masyarakat Empat Suku yang terdiri atas Towiliko, Boeng, Modole, dan Pagu. Pelestarian kearifan lokal dipandang penting agar pembangunan ekonomi tidak menghilangkan identitas sosial masyarakat yang telah berkembang selama beberapa generasi. Pendekatan tersebut juga membantu membangun hubungan antara perusahaan dengan komunitas di sekitar wilayah operasional. Ketika program lingkungan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan budaya dijalankan secara bersamaan, pembangunan diharapkan memiliki dampak yang lebih menyeluruh terhadap kehidupan masyarakat.
Penghargaan yang diterima NHM hadir ketika pemerintah mendorong perusahaan bergerak lebih jauh dari sekadar memenuhi kewajiban lingkungan. Pemerintah menginginkan konsep ekonomi hijau berkembang menuju ekonomi restoratif, yakni kegiatan ekonomi yang tidak hanya mengurangi kerusakan tetapi juga membantu memulihkan lingkungan yang telah mengalami tekanan. Indonesia masih memiliki jutaan hektare lahan kritis, kawasan mangrove, gambut, daerah aliran sungai, hingga kawasan pascatambang yang membutuhkan rehabilitasi. Kondisi tersebut membuat keterlibatan sektor swasta menjadi penting karena pemerintah tidak dapat menjalankan seluruh agenda pemulihan secara sendiri. Perusahaan dituntut mampu menunjukkan dampak program ESG secara nyata dan dapat diukur, bukan sekadar menjadikannya bagian dari laporan keberlanjutan. Konservasi mangrove menjadi salah satu contoh kegiatan yang dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir apabila dikelola secara konsisten.
Anugerah Ekonomi Hijau 2026 menjadi pengakuan terhadap langkah NHM mengintegrasikan kepedulian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat di Halmahera Utara. Tantangan berikutnya adalah memastikan program penanaman mangrove tidak berhenti pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi menghasilkan kawasan yang tumbuh sehat dan mampu mempertahankan fungsi ekologisnya dalam jangka panjang. Pemantauan pertumbuhan, perawatan, keterlibatan masyarakat, serta perlindungan kawasan dari aktivitas yang dapat merusak menjadi faktor penting untuk menentukan keberhasilan konservasi. Pada saat yang sama, program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan penguatan kapasitas masyarakat perlu terus dijalankan agar manfaat pembangunan dapat berlangsung setelah kegiatan pertambangan berakhir. NHM diharapkan menjadikan penghargaan tersebut sebagai dorongan untuk memperkuat standar keberlanjutan dan transparansi dampak program yang telah dijalankan. Dengan kolaborasi pemerintah daerah dan masyarakat, konservasi mangrove di Kawasan Ekosistem Esensial Desa Kao diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir Halmahera Utara.