Sinjai, 27 September 2026 –
Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) mulai memberikan dampak ekonomi bagi nelayan di Desa Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Sejak beroperasi pada 2026, rata-rata pendapatan nelayan setempat dilaporkan meningkat dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan. Kenaikan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya harga jual ikan tuna serta semakin terbukanya akses pengolahan dan pemasaran hasil tangkapan. KNMP Tongke-Tongke juga kembali mengirimkan 12 ton tuna loin menuju Jakarta untuk memenuhi kebutuhan unit pengolahan ikan sebelum produk dipasarkan lebih lanjut.
Harga tuna hasil tangkapan nelayan sebelumnya berada pada kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Setelah ekosistem usaha KNMP berjalan, harga jualnya meningkat menjadi sekitar Rp45.000 per kilogram. Direktur Pemberdayaan Usaha Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan sekaligus Sekretaris Satgas Operasionalisasi KNMP, Ali Rahmat Iman Santoso, menyebut peningkatan harga tersebut ikut mendorong rata-rata penghasilan nelayan hingga Rp7 juta per orang setiap bulan. Kenaikannya mencapai sekitar 75 persen dibandingkan pendapatan sebelumnya.
Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari harga ikan yang lebih tinggi, tetapi juga pengolahan hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah. Tuna segar yang dibawa nelayan dapat diproses menjadi tuna loin sebelum dikirim ke luar daerah. Sebelum pengiriman terbaru sebanyak 12 ton, KNMP Tongke-Tongke telah melepas sekitar 65 ton tuna loin senilai Rp2,54 miliar menuju Jakarta melalui mitra koperasi. Bagian ikan lainnya seperti tetelan, rahang atau kama, toro atau bagian perut, serta daging merah hasil pemotongan juga dimanfaatkan dan dipasarkan sehingga mempunyai nilai ekonomi.
Ketua Satgas Operasionalisasi KNMP Victor Gustaaf Manoppo menilai konsistensi pengiriman produk perikanan dari Tongke-Tongke menunjukkan mulai terbentuknya ekosistem bisnis yang lebih besar di kawasan tersebut. Fasilitas yang tersedia membantu nelayan mempertahankan kualitas hasil tangkapan sekaligus memperpendek rantai distribusi menuju pasar. KNMP Tongke-Tongke antara lain dilengkapi fasilitas penyimpanan dingin, pabrik es, kios perbekalan, kendaraan berpendingin, cool box, hingga fasilitas pendukung lainnya. Keberadaan infrastruktur tersebut membuat hasil tangkapan tidak harus segera dilepas dengan harga rendah karena keterbatasan penyimpanan.
Dampak KNMP juga mulai terlihat pada penyerapan tenaga kerja dan penguatan kelembagaan ekonomi lokal. KNMP Tongke-Tongke telah menyerap 39 tenaga kerja lokal dan mempunyai sekitar 80 anggota. Bupati Sinjai Ratnawati Arif menilai keberadaan fasilitas penyimpanan dingin menjadi salah satu faktor penting karena kualitas ikan dapat dipertahankan lebih lama dan peluang diversifikasi usaha semakin terbuka. Pemerintah daerah juga melihat sistem tersebut sebagai salah satu cara memperkuat posisi tawar nelayan dalam rantai perdagangan hasil laut. Dengan akses pasar yang lebih luas, nelayan diharapkan memperoleh bagian nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil tangkapannya.
Secara nasional, KNMP dirancang sebagai model pengembangan kawasan nelayan terpadu yang menghubungkan aktivitas produksi, penyimpanan, pengolahan, distribusi hingga pemasaran. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat 65 KNMP tahap pertama telah menyelesaikan pembangunan dan memasuki tahap operasional pada 2026. Hingga 14 Agustus, lokasi-lokasi tersebut telah mengirimkan sekitar 273,6 ton produk perikanan dengan nilai Rp11,10 miliar. Komoditasnya beragam, mulai dari tuna, tuna loin, tuna fillet, cumi, gurita, tongkol hingga kakap putih. Pemerintah menempatkan peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat pesisir sebagai sasaran utama program tersebut.
Perkembangan di Tongke-Tongke menjadi salah satu contoh bagaimana fasilitas pascapanen dan akses pasar dapat memengaruhi nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan pasokan ikan, ketersediaan bahan bakar, pengelolaan fasilitas, kapasitas koperasi, serta kepastian pasar agar kenaikan pendapatan dapat dipertahankan. Infrastruktur yang dibangun juga perlu terus dimanfaatkan secara produktif sehingga manfaat KNMP tidak berhenti pada pembangunan fisik. Dengan pengelolaan yang konsisten, pengolahan hasil tangkapan dan rantai distribusi yang lebih pendek berpotensi memperkuat posisi nelayan dalam kegiatan ekonomi perikanan. Peningkatan pendapatan nelayan Tongke-Tongke hingga sekitar Rp7 juta per bulan menjadi salah satu indikator awal dari dampak operasional program tersebut.