Jakarta, 30 Agustus 2026 – Indonesia kembali menunjukkan besarnya pasar mi instan dengan menempati posisi kedua sebagai negara dengan konsumsi mi instan terbesar di dunia. Berdasarkan data World Instant Noodles Association (WINA) yang diperbarui pada Agustus 2026, konsumsi mi instan di Indonesia mencapai 14,54 miliar porsi sepanjang 2025. Angka tersebut hanya berada di bawah China dan Hong Kong yang mencatat konsumsi sekitar 43,27 miliar porsi. Posisi Indonesia bahkan berada jauh di atas Jepang dan Korea Selatan yang selama ini dikenal memiliki budaya konsumsi mi instan yang kuat.
Data WINA menunjukkan konsumsi mi instan Indonesia pada 2025 mencapai 14.540 juta porsi. Jumlah tersebut mengalami sedikit penurunan dibandingkan 2024 yang berada di angka 14.680 juta porsi. Meski demikian, Indonesia tetap mempertahankan posisi kedua dunia karena volume konsumsinya masih jauh melampaui sejumlah negara besar lainnya. India berada di posisi ketiga dengan 9,601 miliar porsi, sedangkan Vietnam menempati urutan keempat dengan 8,231 miliar porsi.
Besarnya konsumsi Indonesia menjadi semakin menarik karena jumlah tersebut mengungguli Jepang dan Korea Selatan. Jepang mencatat konsumsi sekitar 5,952 miliar porsi pada 2025, sementara Korea Selatan berada di angka 4,061 miliar porsi. Dengan demikian, konsumsi Indonesia lebih dari dua kali lipat Jepang dan lebih dari tiga kali lipat Korea Selatan. Perbedaan tersebut memperlihatkan besarnya skala pasar mi instan di Indonesia dari sisi jumlah porsi yang dikonsumsi.
Popularitas mi instan di Indonesia tidak terlepas dari karakter produk yang praktis, mudah disiapkan, dan relatif terjangkau. Mi instan dapat dikonsumsi sebagai makanan utama maupun pelengkap dengan berbagai tambahan bahan sesuai selera. Kondisi tersebut membuat produk ini memiliki pasar yang luas, mulai dari rumah tangga hingga konsumen muda. Kebiasaan mengolah mi dengan tambahan telur, sayuran, daging, atau berbagai bahan lainnya juga membuat mi instan mudah disesuaikan dengan selera masyarakat.
Dari berbagai jenis yang tersedia, mi goreng menjadi salah satu varian yang paling populer di kalangan konsumen Indonesia. WINA mencatat bahwa konsumen Indonesia banyak menyukai mi goreng, sementara varian sayuran, ayam, dan udang yang dilengkapi bumbu cabai juga banyak dikonsumsi. Karakter rasa yang kuat dan pilihan varian yang beragam membuat mi instan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Besarnya pasar domestik juga berjalan beriringan dengan kuatnya industri mi instan nasional. Produk buatan Indonesia telah dikenal di berbagai negara dan menjadi bagian dari perkembangan industri makanan olahan. Popularitas merek dan cita rasa lokal turut membuka peluang ekspansi ke pasar internasional. Bahkan, salah satu produk mi instan Indonesia berhasil masuk jajaran teratas pemeringkatan mi instan terbaik dunia pada 2026, menunjukkan bahwa produk lokal tidak hanya kuat di pasar domestik tetapi juga mendapat perhatian konsumen global.
Secara global, permintaan mi instan juga terus mengalami pertumbuhan. WINA mencatat konsumsi dunia mencapai 124,209 miliar porsi pada 2025, meningkat sekitar 0,7 persen dibandingkan 123,305 miliar porsi pada 2024. China dan Hong Kong masih menjadi pasar terbesar dengan konsumsi 43,268 miliar porsi. Setelah Indonesia dan India, Vietnam, Jepang, Amerika Serikat, Filipina, Thailand, Korea Selatan, dan Nigeria melengkapi jajaran sepuluh besar pasar mi instan dunia.
Jika melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, konsumsi mi instan Indonesia memang menunjukkan angka yang relatif tinggi. Pada 2021, konsumsi tercatat sekitar 13,27 miliar porsi, kemudian meningkat menjadi 14,26 miliar pada 2022 dan 14,54 miliar pada 2023. Angka tersebut kembali naik menjadi 14,68 miliar pada 2024 sebelum sedikit turun menjadi 14,54 miliar porsi pada 2025. Meskipun terjadi perubahan dari tahun ke tahun, tingkat konsumsi Indonesia tetap berada pada level yang sangat besar.
Menariknya, posisi Indonesia sebagai pasar terbesar kedua berdasarkan total porsi tidak berarti Indonesia merupakan negara dengan konsumsi per kapita tertinggi. Perhitungan per orang menghasilkan gambaran yang berbeda karena jumlah penduduk setiap negara tidak sama. Korea Selatan, misalnya, memiliki konsumsi per kapita yang jauh lebih tinggi meskipun total konsumsinya berada di bawah Indonesia. Data WINA yang dikutip Yonhap menunjukkan konsumsi per kapita Korea Selatan mencapai sekitar 79,2 porsi pada 2024, sedangkan Indonesia sekitar 52 porsi per orang.
Perbedaan antara konsumsi total dan konsumsi per kapita tersebut menunjukkan bahwa besarnya pasar Indonesia terutama ditopang oleh jumlah penduduk yang sangat besar sekaligus tingginya tingkat penerimaan masyarakat terhadap mi instan. Sementara itu, negara seperti Korea Selatan memiliki kebiasaan konsumsi mi instan yang sangat kuat jika dihitung berdasarkan jumlah porsi per penduduk. Karena itu, posisi kedua Indonesia lebih tepat dipahami sebagai pencapaian dari sisi total volume konsumsi, bukan berarti setiap orang Indonesia mengonsumsi mi instan lebih banyak daripada masyarakat Jepang atau Korea Selatan.
Besarnya permintaan juga memberikan peluang bagi produsen untuk terus melakukan inovasi. Perubahan selera konsumen mendorong munculnya berbagai varian rasa, ukuran kemasan, serta produk dengan karakteristik yang berbeda. Tren makanan yang lebih beragam juga membuat mi instan tidak lagi hanya diposisikan sebagai makanan praktis, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk dengan segmen pasar yang lebih luas. Persaingan tersebut berpotensi mendorong produsen meningkatkan kualitas sekaligus mempertahankan harga yang kompetitif.
Dengan konsumsi mencapai 14,54 miliar porsi pada 2025, Indonesia tetap menjadi salah satu pusat utama industri mi instan dunia. Posisi tersebut memperlihatkan kuatnya permintaan domestik sekaligus besarnya peluang industri makanan olahan di Tanah Air. Jepang dan Korea Selatan memang memiliki budaya mi instan yang sangat kuat, tetapi dari sisi total konsumsi Indonesia berada jauh di depan keduanya. Dengan pasar yang besar, pilihan produk yang semakin beragam, serta popularitas mi goreng dan berbagai varian rasa lokal, Indonesia diperkirakan akan tetap menjadi salah satu pasar mi instan paling penting di dunia.