Palangka Raya, 4 November 2026 – Kecelakaan helikopter yang digunakan dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan informasi awal yang beredar, satu orang dilaporkan meninggal dunia, sementara dua orang lainnya berhasil dievakuasi setelah helikopter mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas penanganan kebakaran. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena operasi pemadaman melalui udara memiliki peran penting dalam menjangkau wilayah kebakaran yang sulit diakses petugas darat. Kecelakaan ini juga mengingatkan pada tingginya risiko yang dihadapi personel penerbangan ketika bekerja dalam kondisi lingkungan yang penuh tantangan. Hingga rincian resmi mengenai lokasi kejadian, identitas korban, dan penyebab kecelakaan dipastikan, informasi awal tersebut masih perlu diperlakukan sebagai laporan sementara. Aparat terkait diharapkan dapat memberikan perkembangan mengenai proses penanganan korban dan pemeriksaan terhadap insiden penerbangan tersebut.
Helikopter pemadam kebakaran merupakan salah satu sarana yang digunakan untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah dengan bentang alam luas seperti Kalimantan Tengah. Pesawat jenis ini dapat membantu petugas melakukan pemantauan titik api, mengangkut personel, serta mendukung operasi pemadaman dari udara sesuai perlengkapan yang digunakan. Dalam situasi kebakaran yang meluas, keberadaan helikopter memungkinkan tim penanganan menjangkau kawasan yang sulit dilalui kendaraan darat. Namun, operasi tersebut menghadapi berbagai tantangan, mulai dari jarak pandang yang berkurang akibat asap hingga perubahan kondisi angin di sekitar lokasi kebakaran. Awak penerbangan juga harus memperhitungkan karakteristik medan, ketinggian terbang, dan keselamatan ketika mendekati area operasi. Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa penerbangan untuk penanggulangan bencana membutuhkan prosedur keselamatan yang ketat serta koordinasi antara awak pesawat dan petugas di lapangan.
Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Brigjen TNI Donny Pramono, helikopter yang mengalami kecelakaan merupakan jenis Mi-17V5 milik Pusat Penerbangan Angkatan Darat atau Penerbad. Helikopter tersebut membawa delapan personel ketika menjalankan operasi pemadaman karhutla di wilayah Kabupaten Seruyan. Dalam perkembangan penanganan hingga Rabu sore, satu kru ditemukan meninggal dunia dan jenazahnya telah dievakuasi ke Rumah Sakit Kuala Pembuang. Lima kru lainnya dinyatakan selamat dan mendapatkan perawatan medis di rumah sakit yang sama. Sementara itu, dua personel masih dalam proses pencarian dan evakuasi oleh petugas gabungan. Informasi tersebut memperjelas kondisi korban setelah sebelumnya beredar sejumlah laporan awal mengenai jumlah personel yang berhasil diselamatkan. Pihak TNI AD masih memprioritaskan keselamatan korban serta kelanjutan proses evakuasi di lokasi kejadian.
Kronologi kecelakaan bermula ketika helikopter Mi-17V5 lepas landas dari Kuala Pembuang sekitar pukul 09.55 WIB. Pesawat tersebut dijadwalkan menuju kawasan Telaga Pulang untuk mendukung operasi pemadaman karhutla di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting. Dalam pelaksanaan tugasnya, helikopter melakukan pengambilan air untuk mendukung kegiatan pemadaman melalui udara atau water bombing. Namun, ketika menjalankan kegiatan tersebut di kawasan perairan Desa Sungai Perlu, helikopter mengalami kecelakaan. Lokasi kejadian berada di Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Hingga laporan perkembangan disampaikan, penyebab pasti jatuhnya helikopter belum dapat dipastikan dan masih dalam proses penyelidikan. Aparat terkait belum menyampaikan kesimpulan mengenai kemungkinan gangguan teknis, faktor lingkungan, maupun kondisi operasional yang berkaitan dengan insiden tersebut.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, sebelumnya juga membenarkan adanya kecelakaan helikopter ketika menjalankan operasi penanggulangan karhutla. Ia menjelaskan bahwa proses penanganan telah dilakukan setelah informasi mengenai kecelakaan diterima. Helikopter yang mengalami kecelakaan diketahui memiliki nomor registrasi HA-5235 dan berpangkalan di Bandara Kuala Pembuang. Berdasarkan laporan awal, penerbangan tersebut dipimpin Mayor CPN Dudi sebagai pilot dengan Kapten CPN Hafiz sebagai kopilot. Namun, pihak berwenang belum memberikan rincian lengkap mengenai identitas seluruh korban maupun kondisi medis masing-masing personel yang selamat. Proses pencarian terhadap dua kru yang belum ditemukan menjadi perhatian utama karena kondisi lokasi kecelakaan membutuhkan dukungan personel dan sarana evakuasi yang memadai. Koordinasi antara unsur TNI dan petugas terkait diperlukan agar penanganan dapat berlangsung dengan aman dan efektif.
Kecelakaan tersebut terjadi ketika Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Wilayah ini memiliki kawasan hutan dan lahan gambut yang luas sehingga operasi pemadaman sering membutuhkan dukungan dari berbagai unsur, termasuk petugas darat dan penerbangan. Kebakaran pada kawasan yang sulit dijangkau dapat membutuhkan penanganan melalui udara untuk membantu mengurangi penyebaran api. Helikopter water bombing digunakan untuk membawa air menuju titik kebakaran yang tidak mudah dicapai kendaraan maupun personel pemadam. Namun, penerbangan pada ketinggian rendah dan kegiatan pengambilan air memerlukan ketelitian tinggi karena awak harus memperhitungkan kondisi lingkungan serta karakteristik lokasi operasi. Keselamatan penerbangan menjadi bagian penting dalam setiap pelaksanaan misi, terutama ketika operasi berlangsung di kawasan perairan atau dekat lokasi kebakaran. Peristiwa di Seruyan memperlihatkan bahwa penanggulangan bencana juga menghadirkan risiko besar bagi personel yang terlibat langsung dalam operasi.
Selain upaya penyelamatan, pemeriksaan terhadap penyebab kecelakaan menjadi langkah penting untuk mengetahui rangkaian peristiwa secara menyeluruh. Penyelidikan dapat mencakup kondisi teknis helikopter, prosedur penerbangan, situasi cuaca, serta tahapan operasi yang dilakukan sebelum kecelakaan. Informasi dari awak yang selamat juga dapat membantu petugas memahami situasi terakhir sebelum pesawat mengalami gangguan. Meski demikian, seluruh kemungkinan tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab kecelakaan. Hasil penyelidikan nantinya diharapkan memberikan gambaran mengenai faktor yang berkontribusi terhadap insiden sekaligus menjadi bahan evaluasi keselamatan penerbangan. Pemeriksaan yang menyeluruh penting dilakukan untuk mendukung peningkatan prosedur operasional pada misi penanggulangan bencana berikutnya. Di tengah proses tersebut, penanganan korban tetap menjadi prioritas agar seluruh personel yang terdampak memperoleh bantuan sesuai kebutuhan.
Peristiwa jatuhnya helikopter Mi-17V5 di Kabupaten Seruyan meninggalkan duka setelah satu personel dinyatakan meninggal dunia dalam tugas pemadaman karhutla. Lima personel lainnya telah mendapatkan penanganan medis, sedangkan dua kru masih menjadi fokus pencarian dan evakuasi berdasarkan laporan resmi terakhir. TNI AD bersama unsur terkait terus menghadapi tantangan untuk menyelesaikan penanganan kecelakaan sekaligus memastikan keselamatan petugas yang bekerja di lokasi. Di sisi lain, kebutuhan penanggulangan karhutla tetap menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi. Kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapan peralatan, koordinasi lapangan, dan penerapan standar keselamatan dalam setiap operasi udara. Perkembangan pencarian dua personel yang belum ditemukan serta hasil penyelidikan penyebab kecelakaan masih dinantikan untuk memberikan kepastian mengenai peristiwa tersebut. Penanganan yang cepat, terkoordinasi, dan transparan diharapkan dapat membantu keluarga korban memperoleh informasi yang jelas sekaligus mendukung evaluasi keselamatan operasi pemadaman karhutla pada masa mendatang.