Jakarta, 24 Mei 2026 – Anggota DPRD DKI Jakarta Kenneth meminta jajaran camat hingga lurah di seluruh wilayah ibu kota bergerak lebih masif dalam menangani persoalan sampah yang masih menjadi masalah serius di Jakarta. Menurutnya, penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan petugas kebersihan dan pemerintah provinsi, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif aparatur wilayah hingga tingkat paling bawah agar penanganan dapat berjalan lebih efektif dan menyentuh langsung lingkungan masyarakat. Pengamat lingkungan perkotaan menjelaskan bahwa persoalan sampah di Jakarta sudah lama menjadi tantangan besar karena tingginya jumlah penduduk, aktivitas ekonomi padat, serta volume sampah harian yang terus meningkat setiap tahun.
Dalam pernyataannya, Kenneth menilai peran lurah dan camat sangat penting untuk memastikan pengelolaan sampah berjalan baik mulai dari tingkat lingkungan, pemukiman warga, pasar tradisional, hingga saluran air. Pengamat tata kota menjelaskan bahwa pengawasan di tingkat wilayah menjadi faktor krusial karena banyak persoalan sampah sebenarnya berawal dari lemahnya pengelolaan di lingkungan terkecil. Penumpukan sampah di kali, trotoar, maupun area permukiman sering terjadi akibat kurangnya pengawasan dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang serta memilah sampah dengan benar.
Masalah sampah di Jakarta juga semakin kompleks karena berkaitan langsung dengan persoalan banjir, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Pengamat kebencanaan menjelaskan bahwa saluran air yang tersumbat sampah menjadi salah satu penyebab utama genangan dan banjir saat hujan deras mengguyur ibu kota. Selain itu, tumpukan sampah yang tidak terkelola baik juga dapat memicu pencemaran lingkungan dan meningkatkan risiko penyakit di kawasan padat penduduk. Karena itu, penanganan sampah tidak hanya menjadi urusan kebersihan kota, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan publik dan ketahanan lingkungan perkotaan.
Di sisi lain, pemerintah daerah sebenarnya telah menjalankan berbagai program pengelolaan sampah mulai dari bank sampah, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pengembangan teknologi pengolahan sampah modern. Namun pengamat lingkungan menilai tantangan terbesar tetap berada pada perubahan perilaku masyarakat dan konsistensi pengawasan di lapangan. Kesadaran memilah sampah dari rumah tangga hingga disiplin menjaga kebersihan lingkungan dinilai masih perlu diperkuat melalui edukasi dan keterlibatan aktif aparatur wilayah bersama komunitas masyarakat.
Dorongan Kenneth agar camat dan lurah bergerak lebih masif menunjukkan bahwa persoalan sampah Jakarta membutuhkan penanganan yang melibatkan seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat secara bersama-sama. Pengamat perkotaan menilai kota sebesar Jakarta membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya mengandalkan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Dengan pengawasan wilayah yang lebih aktif, partisipasi masyarakat yang meningkat, dan pengelolaan lingkungan yang konsisten, Jakarta diharapkan dapat mengurangi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar bagi ibu kota.