Jakarta, 24 Mei 2026 – Istilah “mantan” kembali menjadi perbincangan menarik di media sosial setelah banyak warganet membahas asal-usul kata tersebut yang kini identik dengan hubungan percintaan masa lalu. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia sangat akrab menggunakan istilah “mantan pacar” dibanding “bekas pacar”, meski keduanya sebenarnya memiliki makna yang hampir sama. Pengamat bahasa menjelaskan bahwa kata “mantan” pada awalnya bukan berasal dari dunia percintaan, melainkan lebih sering digunakan dalam konteks jabatan atau status seseorang yang pernah menduduki posisi tertentu, seperti mantan presiden, mantan menteri, atau mantan pejabat.
Menurut ahli linguistik, kata “mantan” berasal dari bahasa Indonesia baku yang memiliki arti “bekas pemangku jabatan” atau seseorang yang sebelumnya pernah berada dalam posisi tertentu. Seiring perkembangan bahasa populer, istilah tersebut kemudian meluas penggunaannya dalam hubungan sosial dan percintaan hingga akhirnya menjadi sangat umum digunakan masyarakat modern. Pengamat budaya populer menjelaskan bahwa penggunaan kata “mantan pacar” mulai semakin populer sejak era media massa dan sinetron pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Dari situlah istilah “mantan” perlahan melekat kuat dalam percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia, terutama di kalangan anak muda.
Di sisi lain, istilah “bekas pacar” sebenarnya masih dianggap benar secara bahasa, namun penggunaannya kini terasa lebih jarang dan kurang populer dibanding kata “mantan”. Pengamat komunikasi sosial menjelaskan bahwa pilihan kata dalam percakapan sering dipengaruhi budaya populer, media, dan kebiasaan masyarakat. Kata “mantan” dinilai terdengar lebih singkat, modern, dan emosional sehingga lebih mudah diterima dalam percakapan santai maupun media hiburan. Bahkan dalam perkembangan budaya digital saat ini, kata “mantan” sering digunakan bukan hanya untuk hubungan asmara, tetapi juga berbagai hal lain seperti mantan teman kerja, mantan tetangga, hingga mantan gebetan.
Fenomena populernya istilah “mantan” juga menunjukkan bagaimana bahasa terus berkembang mengikuti perubahan budaya masyarakat. Pengamat bahasa menjelaskan bahwa bahasa bukan sistem yang kaku karena makna dan penggunaan suatu kata dapat berubah sesuai konteks sosial dan kebiasaan generasi tertentu. Banyak kata yang awalnya digunakan dalam konteks formal akhirnya berubah menjadi bahasa sehari-hari akibat pengaruh media, film, musik, dan internet. Karena itu, istilah “mantan” kini tidak lagi hanya dipahami sebagai status jabatan, tetapi telah menjadi bagian dari budaya percintaan modern di Indonesia.
Perdebatan mengenai “bekas pacar” dan “mantan pacar” memperlihatkan bagaimana bahasa memiliki hubungan erat dengan budaya populer dan dinamika sosial masyarakat. Pengamat budaya menilai istilah “mantan” kini sudah melekat kuat dalam identitas bahasa gaul Indonesia dan kemungkinan akan terus digunakan lintas generasi. Meski terdengar sederhana, perjalanan kata “mantan” menunjukkan bahwa perkembangan bahasa sering kali dipengaruhi kebiasaan masyarakat dalam mengekspresikan hubungan, emosi, dan pengalaman hidup sehari-hari.