Gresik, 11 September 2026 – PT Aneka Tambang Tbk atau Antam menargetkan fasilitas pengolahan dan pemurnian emas baru di Gresik, Jawa Timur, dapat mulai beroperasi pada 2028. Proyek tersebut dipersiapkan untuk memperkuat kapasitas produksi emas perusahaan di tengah tingginya permintaan logam mulia di pasar domestik. Fasilitas baru dirancang mempunyai kapasitas sekitar 30 ton emas per tahun sehingga akan menambah kemampuan Antam dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri. Pembangunan di Gresik juga menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok emas nasional dari sumber bahan baku hingga produk akhir. Antam berharap penambahan kapasitas dapat mengurangi kesenjangan antara kemampuan produksi dan permintaan emas yang terus berkembang.
Rencana fasilitas baru tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan emas batangan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Emas semakin banyak dipilih masyarakat sebagai instrumen penyimpan nilai, terutama ketika kondisi ekonomi global mengalami ketidakpastian. Perubahan harga komoditas, inflasi dan pergerakan nilai tukar ikut mendorong minat terhadap logam mulia. Permintaan yang tinggi membuat ketersediaan produk menjadi salah satu perhatian utama produsen. Antam karena itu melihat peningkatan kapasitas sebagai langkah strategis untuk menjaga kontinuitas pasokan.
Direktur Utama Antam Untung Budiharto menjelaskan fasilitas di Gresik akan mempunyai kapasitas sekitar 30 ton per tahun. Penambahan tersebut akan memperkuat kemampuan perusahaan yang selama ini mengoperasikan fasilitas pengolahan dan pemurnian logam mulia di Jakarta. Kapasitas fasilitas yang sudah ada berada pada kisaran puluhan ton per tahun, sementara kebutuhan pasar domestik dapat melampaui kemampuan produksi pada periode tertentu. Dengan pabrik baru, Antam mempunyai ruang lebih besar untuk meningkatkan volume produk emas batangan. Target operasional 2028 memberikan waktu bagi perusahaan menyelesaikan tahapan pembangunan, instalasi dan pengujian fasilitas.
Pemilihan Gresik mempunyai nilai strategis karena kawasan tersebut berkembang sebagai salah satu pusat industri dan pengolahan mineral di Indonesia. Infrastruktur industri, akses logistik dan kedekatan dengan berbagai fasilitas pendukung memberikan keuntungan untuk pengembangan kegiatan pemurnian. Jawa Timur juga mempunyai konektivitas pelabuhan yang dapat membantu pergerakan bahan baku maupun produk. Keberadaan fasilitas Antam di wilayah tersebut berpotensi memperkuat ekosistem hilirisasi mineral yang telah berkembang. Integrasi dengan rantai pasok domestik menjadi salah satu bagian penting dalam perencanaan proyek.
Bahan baku menjadi aspek krusial karena peningkatan kapasitas pemurnian harus diimbangi dengan ketersediaan pasokan emas. Antam mempunyai sumber dari kegiatan pertambangannya sendiri, tetapi kebutuhan bahan baku tidak seluruhnya harus berasal dari produksi internal. Perusahaan dapat memperoleh pasokan dari berbagai sumber domestik yang memenuhi standar dan ketentuan. Kerja sama dengan perusahaan pertambangan lain menjadi salah satu pilihan untuk memastikan fasilitas dapat beroperasi secara optimal. Kepastian pasokan akan menentukan tingkat utilisasi pabrik setelah mulai berproduksi.
Salah satu perkembangan penting dalam rantai pasok tersebut adalah beroperasinya fasilitas pemurnian logam mulia yang terintegrasi dengan smelter tembaga di Gresik. Produksi emas dari hasil pengolahan konsentrat tembaga domestik membuka peluang pasokan yang lebih besar bagi industri logam mulia nasional. Sebelumnya, sebagian material hasil pertambangan harus melalui proses pengolahan di luar negeri sebelum kembali masuk ke pasar Indonesia. Hilirisasi di dalam negeri memungkinkan nilai tambah lebih besar dipertahankan di Indonesia. Antam dapat mengambil peran pada tahap lanjutan untuk menghasilkan produk emas yang siap dipasarkan.
Penguatan rantai pasok tersebut juga sejalan dengan kebijakan pemerintah mendorong hilirisasi sumber daya mineral. Emas yang terkandung sebagai produk sampingan dalam konsentrat tembaga mempunyai nilai ekonomi tinggi apabila seluruh proses pengolahannya dilakukan di dalam negeri. Dengan fasilitas pemurnian yang semakin lengkap, Indonesia mempunyai kesempatan mengurangi ketergantungan terhadap proses pengolahan di luar negeri. Nilai tambah tidak hanya berasal dari penjualan logam, tetapi juga kegiatan produksi, logistik dan industri pendukung. Pembangunan fasilitas Antam di Gresik dapat memperkuat struktur tersebut.
Antam selama ini dikenal masyarakat melalui produk Logam Mulia yang tersedia dalam berbagai ukuran. Tingginya permintaan terkadang menyebabkan ketersediaan ukuran tertentu menjadi terbatas ketika terjadi lonjakan pembelian. Situasi tersebut dapat muncul ketika harga emas bergerak cepat atau ketidakpastian ekonomi meningkat. Penambahan kapasitas produksi diharapkan memberikan fleksibilitas lebih besar dalam merespons perubahan permintaan. Namun, ketersediaan produk tetap dipengaruhi pasokan bahan baku, proses produksi dan distribusi.
Selain meningkatkan produksi, perusahaan juga perlu memperkuat sistem distribusi agar tambahan kapasitas dapat menjangkau konsumen secara efektif. Antam mempunyai jaringan penjualan fisik dan digital yang digunakan masyarakat untuk membeli maupun menjual kembali emas. Perkembangan transaksi digital membuat permintaan tidak lagi terkonsentrasi pada gerai tertentu. Konsumen dapat melakukan transaksi melalui berbagai kanal yang terhubung dengan produk logam mulia. Peningkatan kapasitas produksi karena itu perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sistem distribusi dan layanan.
Investasi emas di Indonesia juga mengalami perubahan seiring berkembangnya ekosistem bullion. Layanan bank emas memungkinkan masyarakat melakukan transaksi emas melalui sistem yang semakin terintegrasi. Antam mempunyai posisi penting sebagai produsen yang dapat memasok kebutuhan fisik untuk mendukung ekosistem tersebut. Semakin besar transaksi emas domestik, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap pasokan yang mempunyai standar kualitas dan keaslian yang jelas. Fasilitas baru di Gresik dapat memberikan tambahan dukungan terhadap perkembangan pasar tersebut.
Antam tetap harus memperhitungkan dinamika harga emas global dalam menjalankan strategi bisnisnya. Harga logam mulia dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebijakan suku bunga, nilai tukar dolar Amerika Serikat, permintaan bank sentral dan ketegangan geopolitik. Kenaikan harga dapat meningkatkan minat investasi, tetapi pada level tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan beli masyarakat. Sebaliknya, koreksi harga sering dimanfaatkan sebagian investor untuk meningkatkan kepemilikan. Perubahan tersebut membuat perusahaan membutuhkan kemampuan produksi dan distribusi yang cukup fleksibel.
Aspek standar dan kualitas juga menjadi perhatian dalam pengembangan fasilitas baru. Produk emas investasi membutuhkan tingkat kemurnian tinggi dan proses produksi yang dapat dipertanggungjawabkan. Antam selama ini memproduksi emas batangan dengan kadar kemurnian 99,99 persen. Fasilitas baru perlu mempertahankan standar tersebut agar produk yang dihasilkan mempunyai kepercayaan pasar yang sama dengan produksi dari fasilitas yang telah beroperasi. Sistem keamanan, pengawasan bahan baku dan pengendalian kualitas menjadi bagian penting mengingat tingginya nilai material yang diproses.
Proyek di Gresik juga berpotensi memberikan dampak ekonomi di luar peningkatan kapasitas Antam. Pembangunan fasilitas membutuhkan tenaga kerja, kontraktor, pemasok peralatan serta berbagai layanan pendukung. Ketika mulai beroperasi, kegiatan produksi dapat menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan kompetensi khusus di bidang metalurgi, pengolahan mineral dan pengendalian kualitas. Aktivitas logistik juga dapat meningkat seiring pergerakan bahan baku dan produk. Manfaat tersebut akan semakin besar apabila rantai pasok pendukung dapat melibatkan industri domestik.
Target operasional pada 2028 menunjukkan Antam sedang menyiapkan kapasitas untuk kebutuhan pasar jangka menengah dan panjang. Tambahan sekitar 30 ton per tahun dapat memperbesar kemampuan perusahaan memenuhi permintaan emas domestik sekaligus mendukung hilirisasi mineral di Indonesia. Tantangannya adalah memastikan pembangunan berjalan sesuai jadwal, pasokan bahan baku tersedia dan fasilitas dapat mencapai tingkat utilisasi yang optimal. Integrasi dengan ekosistem pengolahan mineral di Gresik menjadi salah satu keuntungan yang dapat dimanfaatkan. Jika proyek berjalan sesuai rencana, pabrik baru tersebut akan menjadi bagian penting dari strategi Antam memperkuat posisi dalam industri emas nasional.